Industri Musik Korea Selatan: Musisi papan atas Korea Harus Mengekspor atau Kelaparan

PSY (foto atas, juga dikenal sebagai Park Jae-sang) sedang berjaya. Pada tanggal 12 Agustus di Stadium Seoul, konser bintang rap ini seperti layaknya pesta besar. Ia menghibur 30.000 fans selama empat jam. Dan Veteran Korea Selatan ini mendadak terkenal di negara Barat, sejak munculnya video musik “Gangnam Style”, dimana ia tampak seolah-olah sedang mengendarai kuda imajiner disekitar bagian mewah kota Seoul, beredar di Youtube. Lagu ini bahkan mencapai puncak nomor satu di iTunes dance chart di Finlandia.

Korean pop (lebih dikenal fans sebagai K-pop) berubah menjadi sebuah sukses manca negara. Group seperti Super Junior dan 2NE1 sekarang telah menjual jutaan CD dan tiket konser dibelahan negara Asia lainnya. Dengan naiknya musik K-pop ke tangga musik manca negara, harga saham dari perusahaan terkemuka, seperti SM Entertainment, juga turut melambung.

Tetapi prospek dinegara ini sendiri kurang cerah. Dengan koneksi internet tercepat didunia broadband, masyarakat Korea lebih memilih untuk mengunduh. Hal ini sendiri tidak menjadi masalah, namun cara yang mereka lakukan itu yang menjadi masalah.

Di negara lain, banyak para pencinta musik masih membayar untuk mengunduh (download), melalui banyaknya “likes” di Apple iTunes shop. Fans biasanya membeli sekitar 99 sen per lagu (dan lebih di negara-negara seperti Jepang dan Inggris). Dari keuntungan tersebut, 70% masuk ke label musik dan artisnya.

Di Korea Selatan, pasar bekerja secara berbeda. Layanan berbasis langganan, yang memungkinkan pendengar untuk menyewa lagu, sangat populer. Untuk jangka waktu satu bulan penggemar musik rock dan pop membayar biaya sekitar 9,000 won ($8) untuk 150 lagu. Layanan ini telah membantu meningkatkan penjualan musik secara keseluruhan menjadi 430 milyar won di 2011.

Menyedihkan bagi label musik dan para artis, bagaimanapun, mereka tidak mendapatkan pembayaran sesuai. Dari penawaran berlangganan, mereka mengumpulkan sedikitnya 30 won per lagu. Ini pun masih harus dibagi lagi ke artis, penulis lagu dan label musik itu sendiri. Bos SM Entertainment komplain bahwa bahkan untuk mengunduh 1 menit lagu tidak dapat menutupi biaya pembuatan sebuah musik video.

Ketakutan untuk mengunduh secara ilegal menjadikan harga rata-rata per lagu musik digital rendah. Bahwa langganan layanan operator adalah kekuatan oligopoli semakin mengurangi daya tawar label. Dengan demikian, SM Entertainment mengambil sedikitnya 1.9 milyar won di penjualan domestik digital kuartal pertama tahun 2012. Sebaliknya, perusahaan menjual CD senilai 3 milyar won, meskipun format fisik seharusnya dihapus.

SM Entertainment dan pemasok K-pop lainnya menutupi kekurangan ini dengan memberikan bintangnya handphone terbaru, atau muncul diberbagai acara televisi. Label musik terbesar telah menjadi mahir memeras uang dari nama bintang pop mereka, daripada musik mereka. Tapi hanya segelintir musisi yang cukup terkenal mampu untuk mendapatkan keuntungan.

Model lama bisnis Korea Selatan, disempurnakan oleh pembuat mobilnya, dulunya menggunakan pasar dalam negeri yang dikemas menarik untuk menguasai pasar asing. Musisi pop di negara ini telah merubah model bisnis ini secara terbalik: mereka harus mengekspor lagu-lagu mereka untuk mendapatkan sedikit keuntungan di negaranya.

Source: The Economist

Indonesian trans: Tuti Handayani @JYJIndonesia